Tampilkan postingan dengan label non-kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label non-kerja. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Oktober 2017





Belajar Tai Chi, ‘meditasi dalam gerak’

( Latihan 37 Yang Style Tai Chi Chuan )

Hasil gambar untuk tai chi
Pada awal tahun 2013 saya mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan Tai Chi secara intensif selama 4 hari. Pelatihan ini merupakan kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya ingin sedikit sharing pengalaman tersebut, siapa tahu bisa memberikan manfaat bagi yang lain.



Mendengar Tai Chi dari cerita dan film


Pada tahun 80-an, banyak anak-anak dan remaja di Indonesia yang menjadi penggemar cerita silat Kho Ping Hoo. Berbagai tokoh dan judul yang terkenal antara lain Bu Kek Siansu, Suling Emas, Suma Han, Pendekar Pulau Es dll. 

Selain buku, pada jaman itu beredar juga 3 serial video silat yang terkenal yaitu:


  • -    Sin Tauw Eng Hiong (Legenda Pendekar Pemanah Rajawali, The Legend of The Condor Heroes) dengan Kwe Ceng sebagai tokohnya,
  • -    Sin Tiauw Hiap Lu (Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali, Pasangan Pendekar Rajawali Sakti, The Return of the Condor Heroes) dengan Yo Ko sebagai tokohnya,
  • -  To Liong To (Kisah Membunuh Naga, Kisah Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga, Heavenly Sword and Dragon Sabre) dengan Thio Bu Ki sebagai tokohnya.



Hasil gambar untuk Condor HeroesHasil gambar untuk Return of the Condor Heroes


To Liong to :
Hasil gambar untuk to liong to




Di dalam serial To Liong To, terdapat cerita di mana Thio Bu Ki (Zhang Wuji) belajar ilmu silat  Tai Chi dari kakek gurunya, Thio Sam Hong (Zhang San Feng), pendiri perguruan Butong Pai di pegunungan Wudang. Saat itu dalam keadaan krisis, Butong Pai diserang oleh banyak ahli silat tingkat tinggi, sementara Thio Sam Hong dalam keadaan terluka dalam akibat serangan licik.  Thio Sam Hong kemudian mengajarkan Tai Chi, ilmu silat ciptaannya, kepada Thio Bu Ki secara kilat. Dengan ilmu yang baru dipelajarinya tersebut, Thio Bu Ki berhasil mengalahkan ahli-ahli silat tingkat tinggi.


Film kedua terkait Tai Chi yang saya lihat adalah film  Tai Chi Master (produksi tahun 1993) yang diperankan oleh Jet Li dan Michelle Yeoh:


Dalam film tersebut Jet Li (yang berperan sebagai Thio Sam Hong) merasa sedih karena teman seperguruannya yang berilmu tinggi menjadi jendral yang jahat. Di dalam kesedihannya dia ‘membuang’ semua ilmunya dan menjadi ‘gila’. Di dalam kegilaannya dia menemukan ilmu Tai Chi yang dapat mengalahkan ilmu silat jendral tersebut.


Film ketiga yang terakhir saya lihat adalah Kungfu Panda 3 di tahun 2016:

Hasil gambar

Film animasi ini dibintangi oleh panda kocak bernama Po. Diceritakan bahwa Po memasuki desa panda dan kembali bersatu dengan ayah kandung dan panda lainnya. Masalah muncul saat seorang prajurit roh jahat muncul ke alam fana dan mencuri chi dari para master kun fu. Untuk mencegah prajurit roh jahat ini mengambil chi dari semua master kung fu dan panda, Po membentuk tentara panda untuk melawan. Po harus menjadi master Taichi untuk mengalahkannya dan menyelamatkan teman-temannya.




Tai Chi : untuk bela diri dan kesehatan


Kalau membaca buku dan melihat film di atas, Tai Chi tampaknya lebih dikenal sebagai ilmu bela diri. Namun pada masa sekarang, Tai Chi banyak juga dikenal sebagai senam untuk kesehatan. Beberapa penelitian dan pernyataan masyarakat menyebutkan bahwa latihan Tai Chi secara intensif dapat meningkatkan kesehatan jantung dan mengurangi risiko stroke, tekanan darah tinggi, serangan jantung dan lainnya. Latihan Tai CHi dapat menurunkan stress dan meningkatkan kesehatan.





Style (Gaya) dan Form (Jurus) Tai Chi

Pada hari Sabtu atau Minggu pagi di senayan, monas atau BSD, kerap kali kita melihat ada kegiatan senam yang menggunakan gerakan-gerakan Tai Chi, kadang disebut Senam Tera. Kita bisa juga mendownload video latihan Tai Chi dari Youtube, namun tetap terasa sukar mengikuti tanpa ada yang melatih. Belum lagi adanya perbedaan gaya atau jurus, ada yang 8, 16, 37 dsb, membuat kita bingung harus mulai dari mana.



Berdasarkan info dari Wikipedia, Tai Chi ( Taichi, Tai Chi Chuan, Taiji, Taijiquan, Tai Ji Juan) ada 5 gaya (style) utama yaitu :

   - Yang-style, 
   - Wu-style, 
   - Chen-style, 
   - Sun-style, dan 
   - Wu/Hao-style. 

Urutan tersebut menunjukkan popularitas (berdasarkan jumlah praktisinya), jadi Yang-style disebutkan sebagai style atau gaya yang paling popular. Sedangkan urutan berdasarkan tahun kelahiran penciptanya adalah Chen (1580), Yang (1799), Wu/Hao (1812), Wu (1870) dan Sun (1861). 

Ada beragam jumlah jurus (form) Tai Chi, mulai dari 4 s.d. 229 Jurus. Jurus aslinya (tradisional/ortodok) biasanya berjumlah 88 sd 108 jurus. Untuk memudahkan orang belajar dan untuk keperluan pertandingan maka dibuat jurus-jurus yang lebih sedikit seperti 8, 16, 24, 37, 42 jurus dsb. Penekanan belajar Tai Chi bisa hanya untuk meditasi dan kesehatan atau juga bisa untuk pertarungan / bela diri (martial art) sebagai bagian dari Wushu.





Mengikuti Latihan Tai Chi Perguruan Alam Semesta
Pada awal tahun 2013, saya mendapatkan rekomendasi tentang adanya pelatihan Tai Chi yang diadakan oleh pengajar yang bagus. Saya kemudian menerima e-mail berupa brosur tawaran pelatihan intensif “Latihan 37 Yang Style Tai Chi Chuan”. Gurunya adalah Bp. Handaka Tania dari Perguruan Alam Semesta. Pelaksanaannya 4 hari (Kamis pagi sd Minggu siang, pas ada libur kejepit) di Puncak, Bogor. Saya browing di internet, ada artikel Jakarta Post terkait Tai Chi dan guru Handaka Tania berjudul ‘Meditation in motion’  - ‘meditasi dalam gerak’ di http://www.thejakartapost.com/news/2009/09/02/meditation-motion.html

Hasil gambar untuk handaka tania



Saya pikir kalau saya tidak meniatkan ikut pelatihan ini, sukar mencari waktu lagi dan mencari pelatih yang ‘recomended’. Maka saya memutuskan untuk mendaftar pelatihan tsb.
Style (gaya) yang akan dipelajari di pelatihan perguruan Alam Semesta nanti adalah Yang-Style 37 Jurus. Gaya ini ‘diciptakan’ (penyingkatan dari Yang-style) dan dipopulerkan oleh Prof Cheng Man Ching di Amerika Serikat dan negara-negara lainnya di luar China. Jurus ini sering disebut Yang-Style Short Form (Gaya Yang Jurus Singkat / Pendek) dengan ciri-ciri :
  • Mengurangi pengulangan-pengulangan di Yang-Style Long Form (108 Jurus)
  • Memerlukan waktu latihan sekitar 10 menit (dibandingkan Yang-Style Long Form yang memerlukan waktu latihan 20-30 menit)
  • Tangan dan pergelangan tangan lebih terbuka dan rileks 
  • Postur jurusnya tidak selebar Yang-Style
  • Pentingnya momentum perpindahan antar jurus (berputar dan berbalik / kembali)
Pada Kamis pagi saya sampai ke tempat pelatihan yang digunakan oleh perguruan Alam Semesta di Puncak. Setelah para peserta berkumpul, dilakukan acara pembukaan dan pembagian buku serta penjelasan jadwal latihan. Peserta pelatihan ini beragam, pria dan wanita, mulai yang berumur 30-an sampai 60-an, ada yang sedang sakit, ada yang belum pernah ikut Tai Chi namun juga ada yang pernah mengajar Tai Chi. Saya sempat kawatir juga melihat jadwal latihannya (namanya juga latihan intensif) : Kamis siang sd malam, Jum’at dan Sabtu mulai jam 4 pagi sd jam 10 malam dan Minggu pagi sd siang. Kalau saya hitung, pada hari Jum’at dan Sabtu total latihannya sekitar 10 jam setiap harinya. Padahal saya jarang berdiri terus menerus lebih dari 1 jam, paling saat mengikuti upacara atau (menemani) belanja…
 
Pada Kamis siang, suhu Handaka Tania memberikan penjelasan mengenai apa itu Tai Chi, apa itu Tai Chi Yang-Style khususnya yang 37 Jurus,apa manfaat Tai Chi dsb. Salah satu kalimat favorit saya dari Suhu adalah bahwa “Tai Chi adalah meditasi dalam gerak”. Suhu menjelaskan bahwa berlatih Tai Chi akan menyelaraskan energi (chi) sehingga pikiran relaks, tidur lebih nyenyak, tulang lebih padat, serta tubuh menjadi sehat. Suhu Handaka Tania memiliki pengalaman mengajar yang lama dan memiliki pengetahuan luas mengenai Tai Chi maupun ilmu silat dan ilmu pernafasan lainnya seperti Wushu. Suhu juga pernah ke China untuk memperdalam ilmunya. Saat mengajar, peserta diterangkan dan dipraktekkan mengenai inti dari latihan Tai Chi, seperti ‘sung’ atau ‘song’, maksud jurus-jurus Tai Chi, kaki mana yang ‘isi’ dan kaki mana yang ‘kosong’ dsb, agar gerakan Tai Chi lebih tepat dan mengalir. Suhu Handaka juga memberikan pesan-pesan agar kita rendah hati dan tenang, memberikan contoh2 dengan cerita dan lainnya
 
Suhu Handaka kemudian mulai mengajarkan jurus-jurus Tai Chi Chuan 37 Yang Style.



Suhu dan para kakak seperguruan (lihat foto) mengajar dengan penuh motivasi dan kesabaran… jurus demi jurus di ulang… dari siang … malam … pagi … siang … malam …terus….
Jurus demi jurus taichi dilatih dan diulang : mulai dari persiapan… i pei se (persiapan gaya) …lan chie wei (memegang ekor burung pipit) yang terdiri dari peng, li, chi, an … tan pien (pecut tunggal)… pai he liang che (bangau putih membentangkan sayap)… chin chi tu li  (ayam emas berdiri dengan satu kaki) … you fen ciao (tendangan kaki kanan) …yin shou (tangan awan)… sampai akhirnya, syukurlah, jurus terakhir : he thai chi (penutupan tai chi)

Para murid senior Suhu, yaitu kakak seperguruan kami (Pak Leo, Pak Tjong Sen, Pak Gatot, Pak Pudjo, Bu Silvi, Pak Hok Liang, Pak Cheng Fi dll) memimpin pelatihan dengan serius namun ramah. Peserta diberikan latihan gerakan dengan contoh di mana para murid senior berada di depan, di samping kanan dan kiri, di belakang peserta sehingga peserta bisa melihat semua gerakan dengan baik. Juga para murid senior langsung memperbaiki kesalahan para peserta di lapangan. Sejak awal ditekankan gerakan yang benar, seperti kuda-kuda yang benar, postur tubuh yang tegak, gerakan yang lembut dan mengalir, pernafasan dll. Latihan dilakukan berulang-ulang dan bertahap, jurus per jurus sehingga peserta bisa menyerap dengan lebih mudah.
 
Pada malam hari pertama dan kedua, tubuh saya terasa sakit semua. Kaki, paha, lutut, betis dan punggung terasa pegal, sulit bergerak, maklum saya bukan orang yang sering berolah raga. Tapi ternyata benar seperti yang dikatakan pelatih, pada hari ke-3 dan ke-4 yaitu Sabtu dan Minggu, pegal-pegal malah berkurang dan badan terasa lebih segar.

Di dalam latihan ini, peserta diberikan kebebasan dan kesempatan untuk menjalankan ibadahnya masing-masing, tidak ada ‘indoktrinasi’ atau pesan-pesan yang ‘mengganggu’. Sebagai contoh saat acara meditasi selama 30 menit setiap pagi, diajarkan bahwa kita harus relaksasi dan memusatkan pikiran ke suatu hal yaitu pernafasan kita, tapi peserta juga dipersilahkan bila di dalam meditasi memusatkan pikiran pada berzikir atau mengingat Tuhannya masing-masing.

Pada minggu pagi, selesailah pelatihan Tai Chi ini. Para peserta sudah menguasai gerakan-gerakan Tai Chi Yang-style 37 jurus. Banyak yang sudah hafal, ada yang masih agak-agak lupa (termasuk saya), tapi paling tidak, semuanya sudah memahami jurus-jurus dan gerakannya sehingga bisa dilatih lebih lanjut (syukurlah diberikan VCD latihan…). Para peserta dan pelatih kemudian melakukan latihan Tai Chi bersama di luar ruangan dengan latar belakang pemandangan gunung yang indah, foto bersama  dan penyerahan sertifikat (lihat foto) … Para peserta pulang dengan badan dan semangat yang lebih segar....
   
Oh iya, satu hal lagi yang menarik di pelatihan ini adalah adanya peragaan ‘kelembutan bisa mengalahkan kekerasan’. Di antara peserta ada yang sudah lama berlatih kungfu dan sejenisnya, kemudian dilakukan peragaan : saat badan suhu Handaka berdiri dengan keras / kuat / kaku, dan peserta tadi mendorong badan suhu dengan keras, maka badan suhu Handaka gampang terdorong....namun saat suhu Handaka posisi tubuhnya lunak (istilahnya dalam keadaan ‘sung’ atau ‘song’, rileks tidak keras), kita coba dorong dengan sekeras-kerasnya tapi tidak dapat kita menggesernya..... Tai Chi yang gerakannya lembut menyimpan kekuatan yang  dahsyat... Latihan ini telah memberikan manfaat besar bagi para peserta untuk menambah pengalaman dan meningkatkan kesegaran tubuh...


Info lebih detil tentang Tai Chi bisa dilihat di wikipedia (Taichi Bahasa Inggris atau Taichi Bahasa Indonesia ), juga 
Info tentang Tai Chi Yang-style 37 Jurus

Ingin informasi lebih lanjut mengenai belajar taichi atau wushu silakan hubungi perguruan Alam Semesta pimpinan Suhu Handaka Tania : Alam Semesta, Jl. Raden Saleh No. 28, Depok, Tel: (021) 7700279 atau email Bp. Djoko di jokoleo@yahoo.com dan Ibu Gita di narumimargareta7@gmail.com

Sampai di sini sharing pengalaman ini…semoga bermanfaat….


Update :

Pak Aar  dalam blognya menceritakan pengalamannya dalam mengikuti pelatihan Tai Chi dengan Suhu Handaka Tania pada tahun 2016.



  


Jumat, 30 Oktober 2015

Kolam Ikan Koi

       Ikan koi adalah ikan yang indah untuk dilihat. Kita bisa memandang ikan koi atau memberikannya makan, sebagai penghilang penat setelah bekerja ..
     
       Bersamaan dengan pembangunan perpustakaan pribadi / keluarga, istri saya minta juga dibangunkan kolam ikan Koi. Kolam ini berbentuk huruf "L". Ukuran 4,5m x 1,5m plus 1,7m x 1,7m untuk kaki huruf L-nya, Kedalaman kolam lebih kurang1m (tepatnya 0,95 m di pinggir kolam, 1,06 cm di dasar tengah kolam tempat pipa PVC). Kedalaman kolam juga menurun dari ujung kolam ke ujung kolam tempat bilik pengolahan air berada.


Kolam ikan Koi dan Perpustakaan


 Ada jembatan kecil yang melintas kolam :

Kolam ikan Koi


       Salah satu hal yang paling penting dalam pemeliharaan ikan Koi adalah aliran air. Supaya tidak harus susah payah menguras kolam secara berkala, maka perlu dibuat sistem pengolahan air yang sesuai. Dasar kolam dibuat menurun ke bawah seperti huruf "V". Di dasarnya dipasang pipa PVC yang dilubangi kecil-kecil sepanjang kolam untuk menarik kotoran ikan. Di ujung kolam dibuat bak pengolahan air yang terdiri dari 3 bilik. Bilik pertama adalah air kolam kotor yang mengalir dari pipa PVC. Bilik ke-dua adalah penyaringan air yang menggunakan kapas/kain penyaring dan batu-batu penyerap kotoran. Bilik ketiga berisi air bersih yang dipompakan kembali ke kolam melalui beberapa air terjun kecil,

Berikut foto sistem pengolahan air tersebut :

Pompa dan penyaringan air (aliran air dari bilik kiri ke kanan)


       Saat bulan pertama kolam digunakan, setiap minggunya ada satu ikan Koi yang mati...sedih rasanya... Penyebabnya tampaknya adalah air yang kadang kotor. Maka dilakukan pengecekan, ditemukan beberapa penyebab seperti lubang-lubang di pipa PVC yang terlalu kecil sehingga kotoran ikan tidak bisa masuk, adanya lumut yang menutupi lubang pipa PVC, ketinggian pembatas bilik yang terlalu rendah sehingga air kotor masuk lagu ke bilik air bersih dsb. Maka kemudian dilakukan beberapa percobaan penyesuaian, seperti penambahan ikan sapu-sapu untuk membersihkan lumut, pembersihan lubang pipa secara teratur dsb....Syukurlah hasilnya bagus, sampai saat ini tidak ada ikan Koi yang mati.

       Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dan di hari libur, ikan Koi berebut makan di jari-jari kita. Saat libut kita bisa memandangi ikan Koi berenang ke sana kemari dengan indahnya, sambil mengobrol dengan keluarga,..hilang penat setelah kerja keras selama seminggu...

Jumat, 23 Oktober 2015

Perpustakaan Pribadi / Perpustakaan Keluarga

       Sebagai penggemar buku, saya secara berkala membeli buku, minimal sebulan sekali di toko buku, dan beberapa bulan sekali memesan secara on-line di webnya Amazon atau Periplus Indonesia. Jika ada tugas ke luar negeri, maka saat perjalanan pulang, koper saya separo akan berisi buku yang saya beli di sana.

       Karena tempat yang terbatas, dan beberapa kali pindah rumah, maka buku-buku tersebut sebagian diletakkan di lemari buku kecil. Sisanya (sebagian besar malah) disimpan di box atau kardus. Beberapa kali saya mengambil buku di box dan kardus dengan perasaan sedih, karena kondisi buku yang menjadi kotor dengan halaman-halaman kertas yang berubah menjadi coklat...
     
       Setelah belasan tahun memimpikannya, akhir tahun 2015 ini, mimpi saya menjadi kenyataan...saya memiliki perpustakaan pribadi! Perpustakaan ini menjadi kenyataan setelah istri saya merelakan kebunnya dipotong sebagian untuk membangun perpustakaan....
Perpustakaan pribadi ini, atau tepatnya perpustakaan keluarga (karena ada buku-buku istri dan anak2) ukurannya adalah sbb :
- Ukuran :
       Luas      : 24 m persegi
       Panjang : 6 meter
       Lebar     : 4 meter
       Tinggi    : 3 meter
- Lemari :
       Jumlah lemari : 10 lemari (6 lemari di sisi panjang, 4 lemari di sisi lebar)
       Ukuran tiap lemari : 90 cm x 40 cm x 300 cm
       Rak tiap lemari : 1 lemari bawah tingi 60 cm, 1 rak tinggi 40 cm, 5 rak tinggi 30 cm

Berikut foto-fotonya :








Rak buku-buku Bahasa Indonesia (buku cerita, komik, agama)



Rak Buku-buku Bahasa Inggris




Rak Buku Anak


Adapun buku-buku yang ada di perpustakaan pribadi / perpustakaan keluarga saya ada di post blog Perpustakaan Keluarga : Daftar Buku.



Jumat, 20 Februari 2015

Buku : Pesan buku dengan tanda tangan pengarangnya

Para penggemar buku akan gembira bila bisa bertemu dengan pengarang buku kesukaannya. Lebih lagi bila bisa berbincang dan mendapatkan tanda-tangannya. Sayangnya untuk buku karangan pengarang luar negeri, kesempatan tersebut sangatlah langka.
Namun ada satu cara kita bisa mendapatkan tanda-tangan dari pengarang favorit kita, yaitu pesan buku yang telah ditandatanganinya secara on-line.
Saya beruntung menemukan homepage dari salah satu pengarang favorit saya yaitu Brandon Sanderson. Di websitenya http://brandonsanderson.com/ kita bisa memesan bukunya dan meminta tanda-tangannya. Dan kita bisa memilih hanya tanda-tangan (signature only) atau dengan tambahan kalimat (signed and personalized), misalnya "To Dwi Kurniawan". Bila kita meminta personalisasi, maka jangka waktu pengirimannya bertambah lama, karena harus menunggu pengarangnya memiliki waktu untuk menulis kalimat yang kita minta. Sedangkan bila hanya tanda tangan, maka lebih cepat waktu pemesanannya karena tokonya sudah punya stock sebelumnya.
Sebagai contoh saya pesan 2 buku dengan pemesanan sebagai berikut: "To Dwi Kurniawan...and please add any comments..".

Beberapa minggu kemudian kedua buku tersebut tiba :




" To Dwi Kurniawan, Life before Death "

"Life before Death" adalah salah satu dari 3 aturan (ideal) yang harus diucapkan dan dipegang teguh oleh Knights of Radiant, yaitu kelompok 'jagoan' atau pahlawan yang memiliki kekuatan super dan menjadi pembela kebenaran. Kalimat itu berarti bahwa kelompok ini berusaha menjaga kehidupan.
Kalimat kedua adalah "Strength before weakness" yang berarti membela yang lemah. Sedangkan kalimat ketiga adalah "Journey before destination"yang berarti perjuangan dilakukan dengan cara yang baik.





"To Dwi Kurniawan in Indonesia. May you always have great books to read and great dreams to dream"
Thank you Brandon...you are the best